Friday, 31 March 2017

PENDEKATAN, STRATEGI, METODE, DAN TEKNIK PEMBELAJARAN



Dalam Lampiran 3 Permendikbud Nomor 58 Tahun 2014 (233) pendekatan dimaknai sebagai cara menyikapi/melihat (a way of viewing); strategi dimaknai sebagai cara mencapai tujuan dengan sukses (a way of winning the game atau a way of achieving of objectif); metode dimaknai sebagai cara menangani sesuatu (a way of dealing). Sedangkan teknik dimaknai sebagai cara memperlakukan sesuatu (a way creating something); dan model dimaknai sebagai kerangka yang berisikan langkah-langkah/uruturutan kegiatan/sintakmatik yang secara operasional perlu dilakukan oleh guru dan siswa. Dalam referensi lain dijelaskan bahwa pendekatanadalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran; metode adalah cara yang digunakan untuk  mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran; teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifk; dan model adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru (bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran). Pendekatan (approach) merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Roy Killen (1998) misalnya, mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centered approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered approaches) yang digunakan dalam perancangan kurikulum dan pembelajaran saat ini. Strategi pembelajaranmerupakan perencanaan tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode digunakan sebagai cara untuk melaksanakan dan merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dalam mengimplementasikan metode pembelajaran, seorang pendidik perlu menetapkan teknik atau cara tertentu agar proses pembelajaran berjaan efektif dan efsien, serta taktik atau gaya individu dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu misalnya dalam menggunakan ilustrasi atau menggunakan gaya bahasa atau idialek agar materi pembelajaran mudah dipahami.

(Dikutip dari Materi UKG Bahasa Indonesia 2015 oleh Mukh Doyin & Supriyono)

PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN MORAL PESERTA DIDIK



Prinsip-Prinsip Perkembangan Kognitif Peserta Didik

Empat Tahap Perkembangan Kognitif Siswa Menurut Piaget
  1. tahap sensori motor (0–2 tahun),
    Pada tahap sensori motor (0-2 tahun) seorang anak akan belajar untuk menggunakan dan mengatur kegiatan fisik dan mental menjadi rangkaian perbuatan yang bermakna. Pada tahap ini, pemahaman anak sangat bergantung pada kegiatan (gerakan) tubuh dan alat-alat indera mereka.
  2. tahap pra-operasional (2–7 tahun),
    Pada tahap pra-operasional (2-7 tahun), seorang anak masih sangat dipengaruhi oleh hal-hal khusus yang didapat dari pengalaman menggunakan indera, sehingga ia belum mampu untuk melihat hubungan-hubungan dan menyimpulkan sesuatu secara konsisten.
  3. tahap operasional konkret (7–11 tahun),
    Pada tahap operasional konkret (7-11 tahun), umumnya anak sedang menempuh pendidikan di sekolah dasar. Di tahap ini, seorang anak dapat membuat kesimpulan dari suatu situasi nyata atau dengan menggunakan benda konkret, dan mampu mempertimbangkan dua aspek dari suatu situasi nyata secara bersamasama
    (misalnya, antara bentuk dan ukuran).
     (4) tahap operasional formal (11 tahun ke atas).
    Pada tahap operasional formal (lebih dari 11 tahun), kegiatan kognitif seseorang tidak mesti menggunakan benda nyata. Tahap ini merupakan tahapan terakhir dalam perkembangan kognitif.
    Perkembangan Moral
  1. Teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap yaitu: Penalaran prakovensional, konvensional, dan pascakonvensional.
    1) Tingkat Satu: Penalaran Prakonvesional
    Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.
    2)
    Tingkat Dua: Penalaran Konvensional
    Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Seorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orangtua atau masyarakat.
    3) Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional
    Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benarbenar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki
    pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.
  2. Tipe-tipe Kepribadian Siswa
    Tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:
  1. Kepribadian Ekstrovert: dicirikan dengan sifat sosiabilitas, bersahabat, menikmati kegembiraan, aktif bicara, impulsif, menyenangkan spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas sosial.
  2. Kepribadian Introvert: dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.
  3. Neurosis: dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan simptom fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.
    Menurut Hippocrates dan Galenus (dalam Kurnia 2007)

  1. Bekal Awal Peserta Didik
    Bekal ajar awal peserta didik dapat pula diartikan kemampuan awal (entry behavior)
    adalah kemampuan yang yang telah diperoleh peserta didik sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang baru. Kemampuan awal
    menunjukkan status pengetahuan dan keterampilan peserta didik sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang diinginkan guru agar tercapai oleh peserta didik. Dengan kemampuan ini dapat ditentukan darimana pengajaran harus dimulai.
    Identifikasi bekal ajar awal peserta didik bertujuan untuk:
    1) Memperoleh informasi yang lengkap dan akurat berkenaan dengan kemampuan awal peserta didik sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu;
    2) Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan serta kecendrungan peserrta didik berkaitan dengan pemilihan program program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka; dan
    3) Menentukan desain program pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.
    Teknik Mengaktifkan Bekal Ajar Awal Peserta Didik
    untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik, seorang pendidik dapat melakukan tes awal (pre-test). Tes yang diberikan dapat berkaitan dengan materi ajar sesuai dengan panduan kurikulum. Selain itu pendidik dapat melakukan wawancara, observasi, dan memberikan kuisioner kepada peserta didik atau calon peserta didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran tersebut. Teknik yang paling tepat untuk mengetahui bekal ajar awal peserta didik yaitu tes. Teknik tes ini menggunakan tes prasyarat dan tes awal. Sebelum memasuki pelajaran sebaiknya guru membuat tes prasyarat dan tes awal. Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki pengetahuan keterampilan yang diperlukan atau di syaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai pelajaran yang hendak diikuti. Benjamin S. Bloom melalui beberapa eksperimen membuktikan bahwa “untuk belajar yang bersifat kognitif apabila pengetahuan atau kecakapan pra syarat ini tidak dipenuhi, maka betapa pun kualitas pembelajaran tinggi, maka tidak akan menolong untuk memperoleh hasil belajar yang tinggi”. Hasil pretest juga sangat berguna untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang dimiliki dan sebagai perbandingan dengan hasil yang dicapai setelah mengikuti pelajaran. Jadi kemampuan awal sangat diperlukan untuk menunjang pemahaman siswa sebelum diberi pengetahuan baru karena kedua hal tersebut saling berhubung.


KISI-KISI UJIAN TULIS NASIONAL (UTN)  PLPG 2017



MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA

TINGKAT SMP DAN SMA

NO
KOMPETENSI UTAMA
MATERI
INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI
1
PEDAGOGIK
Karakteristik perkembangan sosial-emosional peserta didik.
Mengidentifikasikan karakteristik perkembangan sosial-emosional
peserta didik.
Kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik
Menganalisis kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik
Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yag mendidik dalam pembelajaran bahasa.
Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yag mendidik dalam pembelajaran bahasa.
Langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
Menjelaskan langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
Materi pembelajaran yang sesuai dengan KI-KD
menentukan materi pembelajaran yang sesuai dengan KI-KD
Rancangan pembelajaran yang lengkap, baik untuk kegiatan di dalam kelas, laboratorium, maupun lapangan.
Merancang pembelajaran yang lengkap, baik untuk kegiatan di dalam kelas, laboratorium, maupun lapangan.
Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik di kelas, di laboratorium, dan di lapangan dengan memperhatikan standar keamanan yang dipersyaratkan.
Mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran yang mendidik di kelas, di laboratorium, dan di lapangan dengan memperhatikan standar keamanan yang dipersyaratkan.
Media pembelajaran dan sumber belajar yang relevan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran yang diampu
Memanfaatkan media pembelajaran dan sumber belajar yang relevan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran yang diampu untuk
mencapai tujuan pembelajaran secara utuh.
TIK dalam pembelajaran
Memanfaatkan TIK dalam pembelajaran
Model pembelajaran untuk mendorong peserta didik mencapai prestasi optimal
Menentukan model pembelajaran untuk mendorong peserta didik mencapai prestasi optimal
Komunikasi secara efektif
Melakukan komunikasi secara efektif
Aspek penilaian keterampilan
Mengidentifikasi aspek penilaian keterampilan
Instrumen penilaian
Menyusun instrumen penilaian
Pencapaian kompetensi
Menentukan pencapaian kompetensi
Ketercapaian KKM
Menganalisis ketercapaian KKM
Program remedial berdasarkan hasil penilaian
Merancang program remedial berdasarkan hasil penilaian
Tujuan dan sasaran pembelajaran reflektif
Menjelaskan tujuan dan sasaran pembelajaran reflektif
Desain penelitian tindakan kelas untuk peningkatan
Keprofesionalan
membuat desain penelitian tindakan kelas untuk peningkatan
keprofesionalan.
2
PROFESIONAL
Konsep, teori, dan materi aliran struktural yang terkait
Dengan pengembangan materi pembelajaran bahasa
Menjelaskan konsep, teori, dan materi aliran struktural yang terkait dengan pengembangan materi pembelajaran bahasa.
Materi pembelajaran bahasa berdasarkan aliran fungsional.
Pengembangan materi pembelajaran bahasa berdasarkan aliran fungsional.
Konsep hakikat bahasa
Menjelaskan konsep hakikat bahasa.
Jenis-jenis pemerolehan bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan pragmatik).
Mengidentifikasi jenis-jenis pemerolehan bahasa (fonologi, morfologi,
sintaksis, dan pragmatik).
Kedudukan bahasa Indonesia
Menjelaskan kedudukan bahasa Indonesia
Fungsi Bahasa Indonesia
Menjelaskan fungsi Bahasa Indonesia
Ragam Bahasa Indonesia
Mengidentifikasi ragam Bahasa Indonesia
Prinsip dan prosedur berbahasa secara lisan (berbicara dan menyimak) dan tertulis (membaca dan menulis)
Mengaplikasi prinsip dan prosedur berbahasa secara lisan (berbicara
dan menyimak) dan tertulis (membaca dan menulis)
Prinsip dan prosedur berbahasa secara deskrit: menyimak, berbicara, membaca, menulis
Mengaplikasikan prinsip dan prosedur berbahasa secara deskrit: menyimak, berbicara, membaca, menulis
Prinsip dan prosedur berbahasa secara integratif: menyimak, berbicara, membaca, menulis
Mengaplikasikan prinsip dan prosedur berbahasa secara integratif:
menyimak, berbicara, membaca, menulis
Prinsip dan prosedur berbahasa berdasarkan konteks (akademis, formal, vokasional)
Mengaplikasikan prinsip dan prosedur berbahasa berdasarkan konteks (akademis, formal, vokasional)
Prinsip dan prosedur berbahasa secara lisan
Produktif. Berbicara (monolog: bercerita, pidato, ceramah, khotbah dan
Dialog: wawancara, diskusi, debat, percakapan, drama)
Mengaplikasikan prinsip dan prosedur berbahasa secara lisan
produktif. Berbicara (monolog: bercerita, pidato, ceramah, khotbah dan
dialog: wawancara, diskusi, debat, percakapan, drama)
Prinsip dan prosedur berbahasa secara lisan
Reseptif. Menyimak reseptif dan kritis (monolog: bercerita, pidato, ceramah,
Khotbah dan dialog: wawancara, diskusi, debat, percakapan, drama)
Mengaplikasikan prinsip dan prosedur berbahasa secara lisan
reseptif. Menyimak reseptif dan kritis (monolog: bercerita, pidato, ceramah,
khotbah dan dialog: wawancara, diskusi, debat, percakapan, drama)
Prinsip dan prosedur berbahasa secara tertulis
Produktif. Menulis: fiksi (pantun, puisi, cerpen, dongeng, novel, drama)
Dan nonfiksi (catatan harian, iklan, surat, memo, pengumuman, laporan, esai,
Artikel, karya ilmiah). Jenis-jenis karangan: deskripsi, narasi, persuasi, argumrntasi, eksposisi
Mengaplikasikan prinsip dan prosedur berbahasa secara tertulis
produktif. Menulis: fiksi (pantun, puisi, cerpen, dongeng, novel, drama)
dan nonfiksi (catatan harian, iklan, surat, memo, pengumuman, laporan, esai,
artikel, karya ilmiah). Jenis-jenis karangan: deskripsi, narasi, persuasi, argumentasi, eksposisi)
Prinsip dan prosedur berbahasa secara tertulis
Reseptif. Membaca (teknik: membaca cepat, membaca memindai, membaca
Sekilas, membaca nyaring. Jenis: membaca intensif, ekstensif, kritis,
Bahasa=mencari kosa kata dan kalimat-kalimat sumbang, ejaan)
Mengaplikasikan prinsip dan prosedur berbahasa secara tertulis
reseptif. Membaca (Teknik: membaca cepat, membaca memindai, membaca
sekilas, membaca nyaring. Jenis: membaca intensif, ekstensif, kritis,
bahasa=mencari kosa kata dan kalimat-kalimat sumbang, ejaan)
Kaidah bahasa Indonesia (fonologi= ejaan dan
Lafal, morfologi =tata bentukan, istilah, akronim, singkatan, makna kata,
Hubungan makna=polisemi, sinonim, antonim, hiponim, homograf, homofon,
Meronim, denotasi, konotasi, majas=metafora, simile..) Sebagai rujukan
Mengidentifikasi kaidah bahasa Indonesia (fonologi= ejaan dan
lafal, morfologi =tata bentukan, istilah, akronim, singkatan, makna kata,
hubungan makna=polisemi, sinonim, antonim, hiponim, homograf, homofon,
meronim, denotasi, konotasi, majas=metafora, simile..) sebagai rujukan
Kaidah bahasa Indonesia (kaidah ejaan dalam menulis; Kaidah lafal dalam berbicara; kaidah kalimat= kalimat majemuk, paragraf;
Kaidah bentukan: fonologi= ejaan dan lafal, morfologi =tata bentukan, istilah,
Akronim, singkatan, makna kata, hubungan makna=polisemi, sinonim, antonim, hiponim, homograf, homofon, meronim, denotasi, konotasi
Menerapkan kaidah bahasa Indonesia (kaidah ejaan dalam menulis;
kaidah lafal dalam berbicara; kaidah kalimat= kalimat majemuk, paragraf;
kaidah bentukan: fonologi= ejaan dan lafal, morfologi =tata bentukan, istilah, akronim, singkatan, makna kata, hubungan makna=polisemi, sinonim, antonim, hiponim, homograf, homofon, meronim, denotasi, konotasi
Teori dan genre puisi Indonesia (puisi lama: pantun, gurindam, syair; puisi baru: stanza, …. Soneta; prosa lirik: Sabai nan Aluih,
Kaba Minangkabau).
teori dan genre puisi Indonesia (puisi lama: pantun, gurindam, syair; puisi baru: stanza, …. Soneta; prosa lirik: Sabai nan Aluih,
Kaba Minangkabau).
Teori dan genre prosa Indonesia (prosa lama: hikayat, Dongeng; prosa baru: roman, novel, cerpen)
Menjelaskan teori dan genre prosa Indonesia (prosa lama: hikayat,
dongeng; prosa baru: roman, novel, cerpen)
Apresiasi puisi Indonesia (puisi lama: pantun, gurindam, syair;
Puisi baru:stanza, …. Soneta; prosa lirik: Sabai nan Aluih, Kaba
Minangkabau). Tahapan/taksonomi apresiasi: menerima, menggemari,
Memahami, menghayati, menggumuli, menanggapi, mengevaluasi/menilai
Mengapresiasi puisi Indonesia (puisi lama: pantun, gurindam, syair;
puisi baru:stanza, …. Soneta; prosa lirik: Sabai nan Aluih, Kaba
Minangkabau). Tahapan/taksonomi apresiasi: menerima, menggemari,
memahami, menghayati, menggumuli, menanggapi, mengevaluasi/menilai
Puisi Indonesia (puisi lama: pantun, gurindam, syair; puisi
Baru:stanza, …. Soneta; prosa lirik: Sabai nan Aluih, Kaba Minangkabau).
Menulis puisi Indonesia (puisi lama: pantun, gurindam, syair; puisi
baru:stanza, …. Soneta; prosa lirik: Sabai nan Aluih, Kaba Minangkabau).
Apresiasi prosa Indonesia (prosa lama: hikayat,
Dongeng; prosa baru: roman, novel, cerpen)
Mengapresiasi prosa Indonesia (prosa lama: hikayat,
dongeng; prosa baru: roman, novel, cerpen)
Prosa Indonesia ( prosa lama: hikayat, dongeng; prosa baru:
Roman, novel, cerpen)
Menulis prosa Indonesia ( prosa lama: hikayat, dongeng; prosa baru:
roman, novel, cerpen)
Apresiasi teks drama Indonesia
Mengapresiasi teks drama Indonesia
Naskah drama sederhana Indonesia
Mementaskan naskah drama sederhana Indonesia
Kritik sastra Indonesia (puisi, prosa dan drama)
Membuat kritik sastra Indonesia (puisi, prosa dan drama)
Indikator dan atau tujuan mata pembelajaran bahasa
Merumuskan indikator dan atau tujuan mata pembelajaran bahasa
Materi pembelajaran yang sesuai dengan KI-KD
Menentukan materi pembelajaran yang sesuai dengan KI-KD
Masalah dalam pembelajaran bahasa
Merumuskan masalah dalam pembelajaran bahasa
Jaringan komunikasi on-line untuk mendukung
Komunitas profesi sebagai penunjang PKB
Memanfaatkan jaringan komunikasi on-line untuk mendukung
komunitas profesi sebagai penunjang PKB


UNTUK PERSIAPAN UTN 2017 BACA SOAL UTN 2017 KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL DI SINI

PEMEROLEHAN BAHASA

MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
MEMAHAMI HAKIKAT BAHASA DAN PEMEROLEHAN BAHASA
a. Hakikat Pemerolehan Bahasa
            Pemerolehan bahasa (language acquisition) atau akuisisi bahasa menurut Maksan (1993:20) adalah suatu proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar, implisit, dan informal. Lyons (1981:252) menyatakan suatu bahasa yang digunakan tanpa kualifikasi untuk proses yang menghasilkan pengetahuan bahasa pada penutur bahasa disebut pemerolehan bahasa. Artinya, seorang penutur bahasa yang dipakainya tanpa terlebih dahulu mempelajari bahasa tersebut. Stork dan Widdowson (1974:134) mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa dan akuisisi bahasa adalah suatu proses anak-anak mencapai kelancaran dalam bahasa ibunya. Huda (1987:1) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses alami di dalam diri seseorang menguasai bahasa. Pemerolehan bahasa biasanya didapatkan hasil kontak verbal dengan penutur asli lingkungan bahasa itu. Dengan demikian, istilah pemerolehan bahasa mengacu ada penguasaan bahasa secara tidak disadari dan tidak terpegaruh oleh pengajaran bahasa tentang sistem kaidah dalam bahasa yang dipelajari.
            Pada hakikatnya pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal itu maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk., 1998). Selain pendapat tersebut Kiparsky dalam Tarigan (1988) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa bersangkutan. Dengan demikian, proses pemerolehan adalah proses bawah sadar. Penguasaan bahasa tidak disadari dan tidak dipengaruhi oleh pengajaran yang secara eksplisit tentang sistem kaidah yang ada didalam bahasa kedua. Berbeda dengan proses pembelajaran, adalah proses yang dilakukan secara sengaja atau secara sadar dilakukan oleh pembelajar di dalam menguasai bahasa. 

b. Teori Pemerolehan Bahasa Anak
            Berikut ini adalah beberapa teori pemerolehan bahasa pada anak diantaranya yaitu:

1) Teori Behaviorisme

Teori behaviorisme menyoroti aspek perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (response). Perilaku bahasa yang efektif adalah membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan. Reaksi ini akan menjadi suatu kebiasaan jika reaksi tersebut dibenarkan. Dengan demikian, anak belajar bahasa pertamanya.

Sebagai contoh, seorang anak mengucapkan bilangkali untuk barangkali. Sudah pasti si anak akan dikritik oleh ibunya atau siapa saja yang mendengar kata tersebut. Apabila sutu ketika si anak mengucapkan barangkali dengan tepat, dia tidak mendapat kritikan karena pengucapannya sudah benar. Situasi seperti inilah yang dinamakan membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan dan merupakan hal yang pokok bagi pemerolehan bahasa pertama.

B.F. Skinner adalah tokoh aliran behaviorisme. Dia menulis buku Verbal Behavior (1957) yang digunakan sebagai rujukan bagi pengikut aliran ini. Menurut aliran ini, belajar merupakan hasil faktor eksternal yang dikenakan kepada suatu organisme. Menurut Skinner, perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain, dikontrol oleh konsekuensinya. Apabila suatu usaha menyenangkan, perilaku itu akan terus dikerjakan. Sebaliknya, apabila tidak menguntungkan, perilaku itu akan ditinggalkan. Singkatnya, apabila ada reinforcement yang cocok, perilaku akan berubah dan inilah yang disebut belajar.

Namun demikian, banyak kritikan terhadap aliran ini. Chomsky mengatakan bahwa toeri yang berlandaskan conditioning dan reinforcement tidak bisa menjelaskan kalimat-kalimat baru yang diucapkan untuk pertama kali dan inilah yang kita kerjakan tiap hari. Bower dan Hilgard juga menentang aliran ini dengan mengatakan bahwa penelitian mutakhir tidak mendukung aliran ini.

Aliran behaviorisme mengatakan bahwa semua ilmu dapat disederhanakan menjadi hubungan stimulus-response. Hal tersebut tidaklah benar karena tidak semua perilaku berasal dari stimulus-response.

2)Teori Nativisme

            Chomsky merupakan penganut nativisme. Menurutnya, bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia. Pendapat Chomsky didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki pola perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan memiliki peran kecil di dalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa.

Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumit sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu yang singkat melalui “peniruan”. Nativisme juga percaya bahwa setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa (language acquisition device, disingkat LAD). Mengenai bahasa apa yang akan diperoleh anak bergantung pada bahasa yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan di lingkungan Amerika sudah pasti bahasa Inggris menjadi bahasa pertamanya.

Semua anak yang normal dapat belajar bahasa apa saja yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Apabila diasingkan sejak lahir, anak ini tidak memperoleh bahasa. Dengan kata lain, LAD tidak mendapat “makanan” sebagaimana biasanya sehingga alat ini tidak bisa mendapat bahasa pertama sebagaimana lazimnya seperti anak yang dipelihara oleh srigala (Baradja, 1990:33).

Tanpa LAD, tidak mungkin seorang anak dapat menguasai bahasa dalam waktu singkat dan bisa menguasai sistem bahasa yang rumit. LAD juga memungkinkan seorang anak dapat membedakan bunyi bahasa dan bukan bunyi bahasa.

3)Teori Kognitivisme

Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223). Hal ini tentu saja berbeda dengan pendapat Chomsky yang menyatakan bahwa mekanisme umum dari perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa yang kompleks, abstrak, dan khas. Begitu juga dengan lingkungan berbahasa. Bahasa harus diperoleh secara alamiah.

            Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya memahami dunia melalui indranya. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak sudah dapat mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai menggunakan simbol untuk mempresentasikan benda yang tidak hadir dihadapannya. Simbol ini kemudian berkembang menjadi kata-kata awal yang diucapkan anak.

4)Teori Interaksionisme

            Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu berhubungan dengan adanya interaksi antara masukan “input” dan kemampuan internal yang dimiliki pembelajar. Setiap anak sudah memiliki LAD sejak lahir. Namun, tanpa ada masukan yang sesuai tidak mungkin anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis.

Sebenarnya, menurut hemat penulis, faktor intern dan ekstern dalam pemerolehan bahasa pertama oleh sang anak sangat mempengaruhi. Benar jika ada teori yang mengatakan bahwa kemampuan berbahasa si anak telah ada sejak lahir (telah ada LAD). Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai penemuan seperti yang telah dilakukan oleh Howard Gardner. Dia mengatakan bahwa sejak lahir anak telah dibekali berbagai kecerdasan. Salah satu kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan berbahasa (Campbel, dkk., 2006: 2-3). Akan tetapi, yang tidak dapat dilupakan adalah lingkungan juga faktor yang memperngaruhi kemampuan berbahasa si anak. Banyak penemuan yang telah membuktikan hal ini.